PELATIHAN, PENDIDIKAN DAN KINERJA KARYAWAN
Tuesday, 8 September 2020
Add Comment
PELATIHAN, PENDIDIKAN DAN KINERJA KARYAWAN
1. Definisi
Pelatihan
Dalam sebuah perusahaan, untuk
memberikan dasar-dasar membangun etos kerja para karyawan biasanya dibuat
suatu pelatihan dasar sumber daya manusia atau training SDM. Kegiatan ini
biasanya di lakukan pada awal masuk untuk membekali mereka dengan pengetahuan
serta langkah-langkah dalam melakukan sebuah pekerjaan yang diberikan.
Terkadang pelatihan yang diberikan juga bisa di lakukan dalam bentuk
memberikan kursus pada para karyawan.
Ivancevih (dalam, Sutrisno 2010). Pelatihan didefinisikan sebagai usaha untuk
meningkatkan kinerja karyawan dalam pekerjaannya sekarang atau dalam pekerjaan
lain yang akan dijabatnya segera. Menurut As’ad, 2001 (dalam, Sutrisno 2010) Mengemukakan pelatihan
menyangkut usaha usaha yang berencana yang diselenggarakan agar dicapai
penguasaan akan ketrampilan, pengetahuan dan sikap-sikap yang relavan
terhadap pekerjaan. Sedangkan Menurut
Andrew
E. Sikula (Dalam, Mangkunegara 2011) mengemukakan bahwa
pelatihan (training) adalah suatu
proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan prosedur sistematis dan
terorganisir dimana pegawai non-managerial mempelajari pengetahuan dan
ketrampilan teknis dalam tujuan terbatas.
Selanjutnya menurut
Hardjanto (2012:69),
pelatihan adalah “Bagian dari pendidikan. Pelatihan bersifat spesifik, praktis,
dan segera. Spesifik berarti pelatihan berhubungan dengan bidang pekerjaan yang
dilakukan”. Menurut pasal 1 ayat 9 undang-undang Nomor 13 tahun
2003 tentang ketenagakerjaan, pelatihan adalah “Keseluruhan kegiatan untuk
memberi, memperoleh, meningkatkan serta mengembangkan kompetensi kerja,
produktivitas, disiplin, sikap dan etos kerja pada tingkat keterampilan dan
keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan.”
Berdasarkan
uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pelatihan
merupakan suatu usaha yang terencana untuk memfasilitasi,
memperbaiki performansi
serta meningkatkan kompetensi kerja yang berkaitan dengan
pengetahuan, keahlian,
sikap dan perilaku yang relavan terhadap karyawan..
2. Faktor-
faktor yang Memperngaruhi Pelatihan
Dalam
rangka meningkatkan kinerja dalam perusahaan perlu dituntut kegiatan
pelatihannya, sebagai salah satu sarana penting dalam pengembangan SDM
perusahaan. Oleh karena itu memahami keberadaan faktor yang mempengaruhi
kinerja pelatihan, maka perlu dilakukan sebuah pengkajian untuk
mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelatihan
yang dilakukan.
Mondy (2008:
212) mengemukakan bahwa pelatihan dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai
berikut:
a. Dukungan
Manajemen Puncak
Dukungan kepemimpinan dari atas sangat berguna agar
program-program pelatihan dan pengembangan dapat berjalan dengan baik.
b. Komitmen
Para Spesialis dan Generalis
Selain dukungan dari manajemen puncak, keterlibatan
seluruh manajer baik spesialis maupun generalis sangat berpengaruh pada
keberhasilan proses pelatihan dan pengembangan. Tanggung jawab utama pelatihan
dan pengembangan merupakan tanggung jawab manajer lini, sedangkan para
profesional pelatihan dan pengembangan hanya memberikan keahlian teknis.
c. Kemajuan
Teknologi
Teknologi memberikan pengaruh yang sangat besar
terhadap pelatihan dan pengembangan terutama penggunaan komputer dan internet
yang secara dramatis mempengaruhi berjalannya fungsi-fungsi bisnis.
d Kompleksitas
Organisasi
Struktur organisasi juga berpengaruh terhadap proses
pelatihan dan pengembangan. Struktur organisasi yang lebih datar karena lebih
sedikitnya level manajerial membuat tugas-tugas individu dan tim semakin
diperluas dan diperkaya. Akibatnya para karyawan menghabiskan lebih banyak
waktu untuk menjalankan pekerjaan dan tugas-tugas yang lebih kompleks daripada
yang biasa dikerjakan sebelumnya.
e. Gaya
Belajar
Meskipun banyak hal yang belum diketahui mengenai
proses belajar, beberapa generalisasi yang dinukil dari ilmu-ilmu keperilakuan
telah mempengaruhi cara perusahaan-perusahaan melaksanakan pelatihan.
f. Fungsi-Fungsi
Sumber Daya Manusia Lainnya
Pelaksanaan yang sukses dari fungsi-fungsi manajemen
yang lain juga mempengaruhi pelatihan dan pengembangan. Sebagai contoh, jika
upaya-upaya rekrutmen dan seleksi hanya menarik para karyawan berkualifikasi
sedang, perusahaan akan membutuhkan program-program pelatihan dan pengembangan
yang ekstensif. Paket kompensasi perusahaan juga bisa mempengaruhi upaya-upaya
pelatihan dan pengembangan.
Organisasi-organisasi dengan sistem pembayaran yang
kompetitif atau program-program kesehatan dan keselamatan yang progresif akan lebih
mudah menarik karyawan yang mampu berprestasi tinggi, dan mempertahankan para
karyawan yang hanya memerlukan sedikit pelatihan.
Berdasarkan
uraian diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa faktor –faktor yang mempengaruhi
pelatihan teridiri dari: Dukungan manajemen puncak, komitmen para spesialis dan
generalis, Kemajuan Teknologi, Kompleksitas Organisasi, gaya belajar, serta
fungsi- fungsi manajemen sumber daya manusia lainnya.
3. Indikator
Pelatihan
Kinerja
adalah catatan tentang hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan
tertentu atau kegiatan selama kurun waktu tertentu. Menurut Mangkunegara (2006:46), untuk mengukur kinerja karyawan dapat digunakan sebagai berikut, antara lain adalah:
a. Instruktur
Mengingat
pelatih umumnya berorientasi pada peningkatan skill, maka para pelatih yang dipilih untuk memberikan materi
pelatihan harus benar-benar memiliki kualifikasi yang memadai sesuai bidangnya,
personal dan kompeten, selain itu pendidikan isntruktur pun harus benar-benar baik untuk melakukan
pelatihan.
b. Peserta
Peserta
pelatihan tentunya harus diseleksi berdasarkan persyaratan tertentu dan
kualifikasi yang sesuai, selain itu peserta pelatihan juga harus memiliki semangat
yang tinggi untuk mengikuti pelatihan.
c. Materi
Pelatihan
sumber daya manusia merupakan materi atau kurikulum yang sesuai dengan tujuan
pelatihan sumber daya manusia yang hendak dicapai oleh perusahaan dan materi
pelatihan pun harus update agar si
peserta dapat dapat memahami masalah yang terjadi pada kondisi yang sekarang.
d. Metode
Metode
pelatihan akan lebih menjamin berlangsungnya kegiatan pelatihan sumber daya
manusia yang efektif apabila sesuai dengan jenis materi dan komponen peserta pelatihan.
e.
Tujuan
Pelatihan
merupakan tujuan yang ditentukan, khususnya terkait dengan penyusunan rencana
aksi (action play) dan penetapan
sasaran, serta hasil yang diharapkan dari pelatihan yang akan diselenggarakan,selain itu tujuan
pelatihan pula harus disosialisasikan seblumnya pada para peserta agar peserta
dapat memahami pelatihan tersebut.
f. Sasaran
Sasaran
pelatihan harus ditentukan dengan kriteria
yang terinci dan terukur (measurable).
Kesimpulan
yang dapat diambil oleh penulis dari uraian diatas untuk mengukur kinerja karyawan dapat digunakan sebagai berikut: Instruktur,
Peserta, materi, metode, tujuan dan sasaran.
4.
Definisi Pendidikan
Dalam
mengerjakan suatu pekerjaan tertentu yang asing, maka perlu mempelajari dahulu
cara mengerjakan pekerjaan itu. Tidak ada seseorang yang mampu melaksanakan
suatu tugas dengan baik apabila tidak mempelajari terlebih dahulu, bahkan
apabila pekerjaan itu nampak mudah, misalnya mengetik surat. Orang yang belum
memiliki pengalaman akan mengalami kesukaran dalam melaksanakannya. Jadi,
pendidikan dan pelatihan sangat perlu.
Sutrisno
(Dalam, Pojoh 2012) menyatakan
pendidikan merupakan totalitas interaksi manusia untuk pengembangan manusia
seutuhnya, dan pendidikan merupakan proses yang terus-menerus yang senantiasa
berkembang. Melalui pendidikan seseorang dipersiapkan untuk memiliki bekal agar
siap tahu, mengenal dan mengembangkan metode berfikir secara sistematis agar
dapat memecahkan masalah yang akan dihadapi dalam kehidupan dikemudian hari (Dalam, Pojoh 2012). Dan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor. 101 Tahun 2000 pasal 1 yang dimaksud dengan Pelatihan dan Pendidikan
adalah “Proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan
kemampuan Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan menurut Sikula (Dalam, Hardjanto 2012) disebutkan bahwa Pendidikan adalah
berhubungan dengan peningkatan umum dan pemahaman terhadap lingkungan kehidupan
manusia secara menyeluruh dan proses pengembangan pengetahuan,
kecakapan/keterampilan, pikiran, watak, karakter dan sebagainya.
Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, yang dimaksud pendidikan adalah “Usaha sadar untuk mempersiapkan
peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi
peranannya di masa yang akan datang.
Berdasarkan pendapat
dari beberapa ahli diatas penulis mengambil kesimpulan bahwa Pendidikan
merupakan proses seorang manusia dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan
kinerja dimasa yang akan datang.
5. Faktor-faktor
yang mempengaruhi Pendidikan
Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya
manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama
dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan
persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. permasalahan
pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersebut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah
aktual beserta cara penanggulangannya.
Menurut
Hasibuan, (Dalam, Prasetio 2013) faktor-faktor
yang mempengaruhi pendidikan dan pelatihan antara lain:
a Peserta
Peserta pendidikan
dan pelatihan mempunyai latar belakang yang tidak sama atau heterogen seperti
pendidikan dasarnya, pengalaman kerjanya, usianya dan lain sebagainya. Hal ini
akan menyulitkan dan menghambat kelancaran pelaksanaan latihan dan pendidikan
karena daya tangkap, persepsi dan daya nalar mereka terhadap pelajaran yang
diberikan berbeda.
b. Pelatih/Instruktur
Pelatih atau
instruktur yang ahli dan cakap mentransfer pengetahuannya kepada para peserta
latihan dan pendidikan sulit didapat. Akibatnya sasaran yang diinginkan tidak
tercapai. Misalnya, ada pelatih yang ahli dan pintar tetapi tidak dapat
mengajar berkomunikasi secara efektif atau teaching skillnya tidak efekti hanya
pintar serta ahli untuk dirinya sendiri.
c. Fasilitas
Pendidikan dan Pelatihan
Fasilitas sarana
dan dibutuhkan untuk pendidikan dan pelatihan itu sangat kurang atau tidak
baik. Misalnya, buku-buku, alat mesin-mesin yang akan untuk praktek kurang atau
tidak ada. Hal ini akan menyulitkan dan menghambat lancarnya pendidikan dan
pelatihan.
d. Kurikulum
Kurikulum
ditetapkan dan diajarkan kurang serasi atau menyimpang serta tidak sistematis
untuk mendukung sasaran diinginkan oleh pekerjaan atau jabatan peserta
bersangkutan. menetapkan kurikulum dan waktu mengajarkannya yang tepat sangat
sulit.
e. Dana
Pendidikan dan Pelatihan
Dana yang tersedia
untuk pendidikan dan pelatihan sangat terbatas, sehingga sering dilakukan
secara terpaksa, bahkan pelatih maupun sarananya kurang memenuhi persyaratan
yang dibutuhkan.
Berdasarkan
uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
pendidikan dan pelatihan antara lain: Peserta, Pelatih/Instruktur, Fasilitas Pendidikan dan Pelatihan,
Kurikulum, Dana pelatihan dan pendidikan.
6. Indikator
Pendidikan
Indikator
merupakan penanda pencapaian kompetisi dasar yang di tandai oleh perubahan
perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap,pengetahuan,dan keterampilan.
Indikator pendidikan adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif pendidikan
sebagai alat yang di gunakan dalam mengevaluasi implementasi sistem pendidikan.
Menurut Undang
Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor. 20 Tahun 2003, indikator pendidikan
adalah berdasarkan:
1. Tingkat/jenjang
pendidikan (pendidikan formal)
Pendidikan formal
merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar
mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan.
2. Pendidikan
Nonformal.
Pendidikan
nonformal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui
kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.
Dari uraian
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa indikator dari pendidikan terdiri dari
Tingkat/jenjang pendidikan (pendidikan formal) dan Pendidikan Nonformal.
7.
Definisi
Kinerja
Kinerja pegawai mempunyai hubungan
erat dengan pemberdayaan sumber daya manusia karena merupakan indikator dalam
menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi
dalam suatu organisasi. Sehubungan dengan hal tersebut maka upaya untuk
mengadakan penilaian terhadap kinerja dalam suatu organisasi merupakan hal
penting.
Kinerja adalah suatu tampilan
keaadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan
hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan opersional perusahaan dalam
memanfaatkan sumber- sumber daya yang dimiliki (Dalam Veithzal & Jauvani; 2009). Sedangkan menurut Mangkunegara
(2011:67)
Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Menurut Cooper (Dalam, Samsudin,2006)
mengungkapkan kinerja (prestasi kerja) adalah sebagai berikut,” A general term applied to part or all of
the conduct or activities of an organization over period of time, often with
reference to some standard such as past projeced cost, an efficiency basebase,
management responsibility or accountability, or the like”. Artinya,
prestasi kerja adalah tingkat pelaksanaan tugas yang dapat dicapai oleh
seseorang, unit atau devisi dengan menggunakan kemampuan yang ada dan batasan
batasan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan organisasi/ perusahaan.
Berdasarkan pendapat dari beberapa
ahli dapat disimpulkan Kinerja merupakan hasil kerja baik secara kuantitas
maupun kuntitas yang dicapai dari pekerjaan yang dikerjakan oleh karyawan
berdasarkan bidang pekerjaannya.
8.
Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja karyawan sangat dibutuhkan
perusahaan dalam mewujudkan tujuan perusahaan, baik jangka pendek maupun jangka
panjang. Kinerja karyawan tidak terlepas dari tingkat pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh
suatu instansi/ perusahaan. Sehingga faktor- faktor yang
mempengaruhi kinerja harus
diperhatikan dalam bekerja.
Menurut Steers (Dalam, ) faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja adalah:
a. Kemampuan,
kepribadian dan minat kerja.
b. Kejelasan dan penerimaan atau penjelasan peran seorang pekerja yang merupakan taraf pengertian dan penerimaan seorang atas tugas yang diberikan kepadanya.
b. Kejelasan dan penerimaan atau penjelasan peran seorang pekerja yang merupakan taraf pengertian dan penerimaan seorang atas tugas yang diberikan kepadanya.
c. Tingkat
motivasi pekerja yaitu daya energi yang mendorong, mengarahkan dan
mempertahankan prilaku.
9.
Indikator
Kinerja
Menurut
Wirawan (2009:67) “ Standar kinerja adalah target, sasaran,tujuan upaya kerja
karyawan dalam kurun waktu tertentu. Dalam melaksanakan pekerjaannya, karyawan
harus mengarahkan semua tenaga , pikiran, ketrampilan , pengetahuan, dan waktu
kerjanya untuk mencapai untuk mencapai apa yang ditentukan oleh standar
kinerja.
Bernandin (Dalam, Veitzal)
menyampaikan ada lima
kriteria dasar atau dimensi untuk mengukur kinerja, yaitu:
a. Quality
terkait dengan proses dan hasil mendekati sempuerna/ ideal dalam memenuhi
maksud atau tujuan.
b. Quantity
terkait dengan satuan jumlah atau kuantitas yang dihasilkan.
c. Timelines
terkiat dengan waktu yang diperlukandalam menyelesaikan aktivitas atau
menghasilkan produk.
d. Cost-effectiveness
terkait dengan tingkat penggunaan sumber- sumber organisasi (orang, uang,
material, teknologi) dalam mendapatkan atau memperoleh hasil atau pengurangan
pemborosan dalam penggunaan sumber- sumber organisasi.
e. Tanpa pengawasan (Need For Supervision), merupakan tingkat
sejauh mana seorang pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa
memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang
diinginkan.
f. Hubungan
antar perorangan (Interpersonal Impact) merupakan
tingkat dimana seorang karyawan mampu untuk mengembangkan perasaan saling
menghargai, niat baik dan kerja sama antara karyawan yang satu dengan karyawan
yang lain dan juga pada bawahan
Yuwalliatin
(dalam Mangkunegara, 2006)
mengatakan bahwa kinerja diukur dengan instrumen yang dikembangkan dalam studi
yang tergabung dalam ukuran kinerja secara umum kemudian diterjemahkan kedalam
penilaian perilaku secara mendasar, meliputi:
a. Kuantitas
kerja
b. Kualitas
kerja
c. Pengetahuan
tentang pekerjaan
d. Perencanaan
kegiatan
Menurut (Kreitner dan Kinicki
2005:230) pengukuran kinerja yang tepat dapat dilakukan dengan cara :
a. Memastikan bahwa
persyaratan yang diinginkan pelanggan yang terpenuhi
b. Mengusahakan standar
kinerja untuk menciptakan perbandingan
c. Mengusahakan jarak bagi
orang yang memonitor tingkat kinerja
d. Menetapkan arti penting
masalah kualitas dan menentukan apa yang harus perlu prioritas perhatian
e. Menghindari konsekuensi
dari rendahnya kualitas
f. Mempertimbangkan penggunaan
sumber daya
g. Mengusahakan umpan balik
untuk mendorong usah perbaikan
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
banyak kriteria untuk mengukur kinerja, maka peneliti menggunakan kriteria
menurut Bernardin yang meliputi: Kualitas (Quality), Kuantitas ( Quantitv), Ketepatan waktu (Timeliness), Efektivitas Biaya (Cost-effectiveness), Tanpa
pengawasan (Need For Supervision), serta Hubungan
antar perorangan (Interpersonal Impact).
Berbagai macam jenis pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tentunya
membutuhkan criteria yang jelas, karena masing-masing pekerjaan tentunya
mempunyai standar yang berbeda-beda tentang pencapaian hasilnya.
0 Response to "PELATIHAN, PENDIDIKAN DAN KINERJA KARYAWAN"
Post a Comment